Wednesday, December 29, 2010

Ketika Kita Harus Memilih

Silahkan pilih orang yang terpenting dalam sepanjang hidupmu.
Trainer mengatakan pada Pesertanya:

“Mari kita buat satu permainan, mohon bantu saya sebentar.”

Kemudian salah satu Peserta berjalan menuju pelataran papan tulis.

TRAINER: Silahkan tulis 20 nama yang paling dekat dengan anda, pada papan tulis.

Dalam sekejap sudah di tuliskan semuanya oleh Peserta tersebut. Ada nama tetangganya, teman kantornya, orang terkasih dan lain-lain.

TRAINER: Sekarang silahkan coret satu nama diantaranya yang menurut anda paling tidak penting !

Peserta itu lalu mencoret satu nama, nama tetangganya.

TRAINER: Silahkan coret satu lagi!

Kemudian Peserta itu mencoret satu nama teman kantornya lagi.

TRAINER: Silahkan coret satu lagi !


Peserta itu mencoret lagi satu nama dari papan tulis dan seterusnya.

Sampai pada akhirnya diatas papan tulis hanya tersisa tiga nama, yaitu nama orang tuanya, suaminya dan nama anaknya.

Dalam kelas tiba-tiba terasa begitu sunyi tanpa suara, semua Peserta tertuju memandang ke arah Trainer, dalam pikiran mereka (para Peserta) mengira sudah selesai tidak ada lagi yang harus dipilih oleh Peserta itu.

Tiba-tiba Trainer memecahkan keheningan dengan berkata, “Silahkan coret satu lagi!”

Dengan pelahan-lahan Peserta itu melakukan suatu pilihan yang amat sangat sulit. Dia kemudian mengambil kapur tulis, mencoret nama orang tuanya.

TRAINER: Silahkan coret satu lagi!

Hatinya menjadi binggung. Kemudian ia mengangkat kapur tulis tinggi-tinggi. Lambat laun menetapkan dan mencoret nama anaknya. Dalam sekejap waktu, terdengar suara isak tangis, sepertinya sangat sedih.

Setelah suasana tenang, Trainer lalu bertanya, “Orang terkasihmu bukannya Orang tuamu dan Anakmu? Orang tua yang membesarkan anda, anak adalah anda yang melahirkan, sedang suami itu bisa dicari lagi. Tapi mengapa anda berbalik lebih memilih suami sebagai orang yang paling sulit untuk dipisahkan ?

Semua teman sekelas mengarah padanya, menunggu apa yang akan di jawabnya.

Setelah agak tenang, kemudian pelahan-lahan ia berkata, “Sesuai waktu yang berlalu, orang tua akan pergi dan meninggalkan saya, sedang anak jika sudah besar setelah itu menikah bisa meninggalkan saya juga, yang benar-benar bisa menemani saya dalam hidup ini hanyalah suami saya.”

Note :
Terkadang dalam hidup ini kita sering di hadapkan akan pilihan sulit. Dan kita harus melalui semua itu dengan hati yang lapang

0 komentar:

Post a Comment